Nasionalisme VS Globalisasi


Teknologi informasi dengan logikanya sendiri telah berinteraksi

dengan user-nya di seluruh dunia.

Dunia tak berjarak lagi dan batas nation tak lagi kuasa mengatur.

Budaya dunia menjadi hampir seragam.

Inilah globalisasi.

            Dunia yang kita huni sekarang berada dalam fenomena yang akrab di sebut dengan globalisasi. Sebuah fenomena yang digambarkan dengan integrasi ekonomi, society dan budaya menjadi global network. Globalisasi mengusung dua instrumen penting dalam perkembangannya yaitu mempersempit dimensi ruang dan mempersingkat waktu dalam interaksi pada skala dunia. Hal menarik yang kemudian timbul adalah adanya soroton dari berbagai perspektif yang menyatakan bahwa dibalik integrasi yang tercipta ternyata globalisasi berperan dalam terciptanya degradasi nilai-nilai lokal atau yang secara umum sering disebut dengan pahaman Nasionalisme.

            Nasionalisme vs globalisasi, merupakan sebuah wacana yang menarik sebab hal ini akan sama halnya menggiring kita pada pembahasan mengenai local value dan global value. Ketika kita berbicara mengenai global value maka akan sangat erat kaitannya dengan nilai-nilai western yang memang menjadi sumber pokok (core) dari perkembangan globalisasi. Thomas L Friedman dalam bukunya yang berjudul The Lexus and the Olive Tree menyebut “golden straitjacket” sebagai konten utama yang memuat nilai-nilai dalam globalisasi. Menurut Friedman, setiap negara, agar mampu menyesuaikan diri dengan perkembangan dunia dewasa ini maka perlu mengenakan apa yang ia sebut dengan “golden straitjacket” yang diterjemahkan ke dalam aktifitas yang mengikuti aturan-aturan ekonomi global seperti privatisasi, deregulasi, dan swastanisasi (as a global value). Dunia dalam naungan globalisasi dirancang menjadi sebuah kesatuan yang homogen dengan menafikkan berbagai kondisi serta latar belakang yang dimiliki oleh aktor-aktornya. Maka timbullah berbagai perdebatan yang kemudian menjadi akrab di telinga kita yaitu apakah globalisasi merupakan ancaman bagi nasionalisme suatu bangsa?

            Perasaan identifikasi yang kuat pada suatu kelompok individu yang berada dalam suatu entitas politik merupakan makna dari Nasionalisme. Dalam sebuah negara yang homogen, nasionalisme dapat dengan mudah diidentifikasi namun berbeda halnya dengan sebuah negara yang heterogen. Globalisasi sebagai fenomena mendunia, nilai-nilai yang diusungnya telah melebur dalam semua sendi-sendi kehidupan masyarakat dan tak pelak, juga menyentuh nasionalisme suatu bangsa. Dalam beberapa kasus, globalisasi dikatakan mengancam nasionalisme suatu bangsa melalui contoh-contoh yang dipaparkan yang terjadi di Indonesia seperti; penggunaan pakaian-pakaian minim yang tidak sesuai dengan identititas bangsa Indonesia, penggunaan produk-produk luar negeri, anak-anak bangsa yang tidak mengetahui nyanyian nasional (Indonesia Raya), bahkan sampai kepada penggunaan bahasa asing sebagai bahasa komunikasi sehari-hari. Lantas, jika hal tersebut dijadikan standarisasi bagi kita dalam mengukur tingkat nasionalisme suatu bangsa maka akan kita dapati bahwa tak ada satupun bangsa di dunia ini yang masih memiliki rasa nasionalisme. Dengan demikian, kita perlu memahami apa esensi dari rasa nasionalisme.

            Nasionalisme bukan merupakan sebuah hal yang mampu terlabeli dengan nyanyian nasional, produk nasional atau bahasa nasional. Nasionalisme hanya akan musnah jika sebuah bangsa musnah. Identitas suatu bangsa akan terus melekat dalam diri seorang individu. Contoh-contoh diatas merupakan sebuah bentuk perubahaan dari kebiasaan yang ada sebelumnya. Perubahan ini disebabkan oleh adanya berbagai hal baru yang ditawarkan oleh globalisasi.

            Mengapa sulit bagi kita dalam mengidentifikasi rasa nasionalisme suatu bangsa? Sebab ancaman atau musuh bersama bagi satu negara tidak lagi terlihat secara faktual. Menghadirkan ancaman bagi suatu bangsa akan mendorong timbulnya rasa nasionalisme. Bagaimana reksi masyarakat suatu bangsa dalam menghadapi ancaman terlihat jelas dalam beberapa kasus yang terjadi sebagai contoh kasus sipadan dan ligitan di Indonesia, invasi Amerika ke Afganistan dan Irak, konflik korea utara dan korea selatan dsb. Globalisasi tidak serta merta menghilangkan rasa nasionalisme namun menciptakan pergeseran pada struktur kebiasaan dalam masyarakat. Adapun global value dalam bentuk“golden straitjacket” yang disebut oleh Friedman lebih terlihat sebagai sebuah sistem yang menggiring kita ke dalam world society yang bersifat homogen dengan menerapkan standar yang sama bagi setiap bangsa. Namun sekali lagi di tekankan bahwa nasionalisme tidak akan mampu digantikan bahkan menjadi second value selama negara masih menjadi aktor global. “Golden straitjacket” adalah tantangan bagi setiap bangsa di dunia bahkan untuk beberapa negara dengan pemikiran yang cenderung radikal akan melihat hal tersebut sebagai sebuah ancaman yang justru semakin memperkuat nasionalisme sebuah bangsa. Angin perubahan yang senantiasa dihembuskan oleh globalisasi dapat menjadi sebuah topan yang membawa kerugian atau menjadi tenaga yang menggerakkan kincir angin yang  membawa keuntungan bagi suatu bangsa. Hal ini didasarkan pada kemampuan sebuah bangsa dalam mempersiapkan dirinya guna mengahdapi arus perubahan yang diciptakan oleh Globalisasi. Globalitation is  The Best Of Times And The Worst Of Times,Charles Dickens.

you can take the children out of country

but you can not take the country out of the children.”

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s