Solusi Penyelesaian Masalah di Negara Berkembang: Perubahan Aktor atau Sistem??


Setiap negara, baik itu negara maju dan negara berkembang, pada hakikatnya selalu berusaha untuk memajukan kondisi internal maupun eksternalnya, dengan kata lain berusaha untuk mencapai dan mewujudkan kepentingan nasionalnya. Namun cara yang ditempuh antara kedua jenis negara tersebut memiliki perbedaan yang sangat mencolok disebakan karena adanya perbedaan dalam segi modal, sumber daya alam, serta sumber daya manusianya.

 

Negara berkembang sebagai negara dengan kategori-kategori yang membedakannya dari negara maju seperti tingkat produktifitas dan tenaga kerja yang minim, menjadikan hal tersebut sebagai tantangan bagi negara berkembang untuk membuat suatu perubahan ke arah yang lebih baik. Maka tidak tanggung-tanggung cara yang ditempuh oleh negara berkembang adalah dengan menerapkan berbagai kebijakan serta regulasi seperti yang dilaksanakan di negara maju. Dengan harapan yang terlampau besar, bahwa dengan melakukan pecontohan dan mengkiblatkan diri pada negara maju hal ini serta merta akan membuahkan hasil yang serupa seperti yang diperoleh negara maju. Namun teori terkadang tidak sejalan dengan prakteknya. Seiring dalam perkembangannya kebijakan serta regulasi yang diterapkan ternyata tidak memberikan kemajuan justru yang terjadi adalah keterpurukkan dan kesenjangan di segala aspek kehidupan masyarakat di negara berkembang.

 

Adapun yang menjadi akar permasalahan tersebut adalah “SISTEM NEOLIBERALISME dan SISTEM EKONOMI KAPITALIS”. Kedua sistem inilah yang senantiasa secara intens di koar-koarkan oleh negara maju dan dengan suskes menarik hati pemerintah-pemerintah di negara berkembang. Turunan dari sistem ini berupa : deregulasi, privatisasi, dan liberalisasi, sehingga menghasilkan berbagai macam kebijakan yang memperlihatkan secara gamblang kepada kita, bentuk pemerintahan yang lepas tangan terhadap perekonomian negara dengan menyerahkan sepenuhnya kepada mekanisme pasar. Meskipun mekanisme pasar memang mampu menghasilkan pertumbuhan ekonomi dan kesempatan kerja yang optimal, namun ia selalu gagal menciptakan pemerataan pendapatan dan memberantas masalah sosial. Pasar secara teoritis hanya memeratakan kesempatan.  Dan hal inilah yang terjadi di negara berkembang, sehingga kemudian menelurkan berbagai persoalan seperti kemiskinan dan keterbelakangan yang semakin parah dari hari ke hari.  Ternyata tanpa melalukan analisis dengan mendalam pun kita dapat dengan jelas melihat kebobrokan dari “sistem” yang di usung oleh negara maju. Dimana kapitalisme yang ada, menjadikan negara-negara berkembang sebagai lahan eksploitasi negara-negara maju yang notabene kekurangan bahan-bahan mentah untuk industrinya. Friedrich List, mengumpamakan bahwa jika negara berkembang adalah seseorang yang menaiki tangga ke satu puncak bangunan, maka negara maju adalah orang yang menendang ‘tangga’ pembangunan tersebut melalui lembaga-lembaga keuangan internasional dan instrumen utang mereka.

 

Kritik akan sistem ini kemudian datang dari kaum kiri penentang “neoliberalisme dan kapitalisme”. “Sosialisme” mengkritik secara terang-terangan kebobrokan kedua sistem tersebut. Dikatakan bahwa sistem pasar yang ada mengandung benih-benih destruktif untuk itu diperlukan intervensi mutlak dari pemerintah untuk mengkritik dan mengoreksi kelemahan pasar. Sistem ini juga mengkritik cara kerja kapitalisme global yang tidak adil dan cenderung menempatkan negara-negara berkembang dalam posisi terpinggirkan bahkan terjajah. Sistem kapitalisme neoliberalisme telah bermetamorfosis menjadi sebuah bentuk kolinialisme dan imperialisme. Dalam sebuah kutipan, Evo Morales(presiden haluan kiri dari Bolivia) menuturkan bahwa “selama imperialisme bercokol, perluasan dan pembangunan tidak akan terjadi, bahkan interdependensia dan kedaulatan akan kehilangan makna”.


Dari penjelasan di atas, rumusan cara yang harus di tempuh untuk memperbaiki kondisi di negara berkembang secara fundamental adalah dengan melakukan perubahan sistem. Sebab yang memang menjadi akar permasalahan utama yang terjadi di negara-negara berkembang adalah “sistem”. Memang yang menjalankan sistem tersebut adalah aktor/pemerintah namun harus di garis bawahi bahwa melalukan perubahan terhadap aktor/tidak akan serta merta membawa perubahan bagi kondisi di negara berkembang jika ternyata mereka masih berotak kapitalisme neoliberalisme sehingga yang dibutuhkan kemudian adalah aktor/pemerintah yang memahami dengan baik bentuk sistem ekonomi politik yang mampu membawa kesejahteraan bagi masyarakatnya bukan sebaliknya membawa kesehjahteraan bagi kaum-kaum elit/pemodal saja. Kita dapat mengambil contoh nyata melalui kebangkitan Sosialisme yang dicanangkan negara-negara Amerika Latin yang lahir dari issue kemiskinan dan ketidakadilan sistem ekonomi yang sangat kapitalistik dan berpihak pada segelintir pemilik modal saja.

 

Sumber-sumber:

 

Iklan

One thought on “Solusi Penyelesaian Masalah di Negara Berkembang: Perubahan Aktor atau Sistem??

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s